Jumat, 15 Januari 2016

Life is a Choice


Terkadang jujur memang benar-benar menyakitkan.

Melihat mereka yang sudah semena-mena dalam menjawab soal ujian. Bekerja sama, mencontek, membawa cerpe’an, bahkan yang terparah adalah memberi uang suap. Lalu tiba-tiba mendapatkan nilai di atas kita.

Sedangkan kita yang belajar mati-matian, berusaha untuk tidak mencontek, bahkan tidak berani mengeluarkan sepeser uang suap pun, hanya bisa mendapatkan nilai pas-pasan.

Menyakitkan, bukan?

Tapi sadarilah kawan, bukan kertas-kertas soal itu ujian yang sesungguhnya. Bukan jawaban-jawaban benar itu hasil akhirnya. Bukan nilai-nilai yang tinggi itu penentu lulus atau tidak ujian sesungguhnya.

Melainkan “cara” kita mendapatkannya yang sebenarnya adalah sebuah ujian.

Apakah kita lulus ujian untuk bisa membagi waktu belajar kita? Apakah kita lulus ujian untuk tidak mencontek? Apakah kita lulus ujian untuk tidak memberi uang suap? Apakah kita lulus ujian untuk tidak berbuat kecurangan-kecurangan di saat ujian berlangsung?

Maka jika kita masih melakukan kecurangan-kecurangan itu, walaupun tertulis nilai A sempurna tiada cacat. Sesungguhnya itu adalah keberhasilan semu. Kegagalan lah yang sebenarnya kita dapatkan. Gagal dalam ujian sebenarnya.

Lalu untuk memutuskan apakah kita ingin mendapatkan keberhasilan yang haqiqi atau kah keberhasilan yang semu itu. Kita lah yang menentukan. Bukan semata-mata hanya memikirkan keberhasilan di masa sekarang, tapi keberhasilan dalam jangka yang lebih panjang. Dunia dan akhirat.

Life is a choice.

Lain waktu jika Allah memberi kesempatan, akan aku tulis nasihat guru yang tak pernah terhapus di otak ini. Nasihat kesuksesan dunia akhirat. Insya Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar