Terkadang jujur memang benar-benar menyakitkan.
Melihat mereka yang sudah semena-mena dalam menjawab soal ujian. Bekerja
sama, mencontek, membawa cerpe’an, bahkan yang terparah adalah memberi uang
suap. Lalu tiba-tiba mendapatkan nilai di atas kita.
Sedangkan kita yang belajar mati-matian, berusaha untuk tidak
mencontek, bahkan tidak berani mengeluarkan sepeser uang suap pun, hanya bisa
mendapatkan nilai pas-pasan.
Menyakitkan, bukan?
Tapi sadarilah kawan, bukan kertas-kertas soal itu ujian yang
sesungguhnya. Bukan jawaban-jawaban benar itu hasil akhirnya. Bukan nilai-nilai
yang tinggi itu penentu lulus atau tidak ujian sesungguhnya.
Melainkan “cara” kita mendapatkannya yang sebenarnya adalah sebuah
ujian.
Apakah kita lulus ujian untuk bisa membagi waktu belajar kita? Apakah
kita lulus ujian untuk tidak mencontek? Apakah kita lulus ujian untuk tidak
memberi uang suap? Apakah kita lulus ujian untuk tidak berbuat
kecurangan-kecurangan di saat ujian berlangsung?
Maka jika kita masih melakukan kecurangan-kecurangan itu, walaupun
tertulis nilai A sempurna tiada cacat. Sesungguhnya itu adalah keberhasilan
semu. Kegagalan lah yang sebenarnya kita dapatkan. Gagal dalam ujian
sebenarnya.
Lalu untuk memutuskan apakah kita ingin mendapatkan keberhasilan
yang haqiqi atau kah keberhasilan yang semu itu. Kita lah yang menentukan. Bukan
semata-mata hanya memikirkan keberhasilan di masa sekarang, tapi keberhasilan
dalam jangka yang lebih panjang. Dunia dan akhirat.
Life is a choice.
Lain waktu jika Allah memberi kesempatan, akan aku tulis nasihat
guru yang tak pernah terhapus di otak ini. Nasihat kesuksesan dunia akhirat.
Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar