Rabu, 20 Januari 2016

COMBI #Part_One

Prolog : COMBI

Kubus Ajaib

Udah lama gue nongkrong-nongkrong nggak jelas di sini, di gedung D. Galau gara-gara nie Emilia nggak ada sms buat kerpok bareng. Sambil memantapkan satu misi yang belum terlaksana hari ini –gegara ada kendala yang sangat konyol- gue pun sms Emilia.
“Mil, klo udah nyampe rumah, sms ya …”
Selang beberapa detik dia jawab.
“Iya.”
Selang beberapa puluh menit gue tunggu sms Emilia –dengan muka yang masih galau dan satu misi itu belom juga terlaksana- gue sms dia lagi.
“Emilia dimana?”
“Emilia di rumah.”
Gubrak!
Dari tadi gue tungguin ternyata dia udah di rumah, nggak di sms duluan lagi dianya. Alamak!!!
Oke deh gue capcus ke rumahnya Emilia.
Di rumah Emilia.
Gue ketok pintu rumahnya, gue tunggu bentar. Akhirnya nie anak Pangkalan Bun keluar juga.
“Gimana kita bikin kubusnya?’ tanya gue to the point.
Pasalnya gue juga nggak ngerti sama kubus ajaib yang sudah terencana sempurna di kepala Emilia. Jadi ceritanya kubus ajaib ini adalah salah satu alat peraga yang kami gunakan buat melengkapi makalah seminar, yang ribetnya minta ampun itu. Nggak ribet-ribet amat sih sebenarnya. Tapi setiap orang di angkatan kami tu kayaknya pusing bin mumet cuma ngurusin makalah seminar doang. Jadi gue keikut juga pusing bin mumetnya.
“Nih aku sudah nungkar magnetnya. Aku borong di wadah paman-paman bejual mainan di muka SD[1],” ucap gue ngebanggain satu misi yang telah berhasil hari ini. Beli magnet mainan di depan SD.
“OK, langsung kita bikin.” Ujar Emilia mantap.
Dia pun mengeluarkan segala alat dan bahan. Mulai dari lakban punya komsat, gunting, dan juga barang-barang ajaib lainnya.
Set, set, set.
Habis ngegambar kubus di karton, trus langsung gue gunting. Langsung ditempelin magnetnya satu-satu, daaaaaaaaan….
TARA!!!!
Kubus ajaibnya udah jadi!!!
Emang awesome nie sohib satu. Ternyata yang dia rencanain berhasil juga. KUBUS AJAIB, benda keramat yang harus kami bikin buat melengkapi makalah seminar dan harus dikonsulkan besok, akhirnya jadi juga.
“Pyuh…” ucap gue lega.
Satu misi lagi berhasil. Tenang. Dan malam ini gue akan mimpi indah keluar dari beberapa persen beban makalah seminar.
Smile J
*to be continued






[1] Banjar : Translate -> This is I buy the magnet. I buy all of the magnet at uncle toy shop in front of elementary school.

COMBI

Coretan @mahasiswi_biasa
#Edisi_semester_lima

“Safitri, udah kelas berapa?” tanya salah satu acil yang datang ke rumah waktu acara nikahan kaka gue. Acil ini datang dari banjar sana, jauh. Udah lama juga nggak ketemu, jadi wajar beliau nanya begitu.

“Baru kelas lima, cil … “ jawab gue dalam hati. Pengen banget jawab begitu. Tapi nyatanya gue harus menjawab apa adanya. Gue sadar klo gue harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada.

“Ulun sudah kuliah, hhe semester lima…” jawab gue dengan muka yang di cute-cute in. tapi tetep aja keliatan tua nya.

***

Nggak kerasa udah semester lima. Perasaan baru kemaren gue ngelap ingus. Nggak cuma karena gue anak ingusan ya, tapi yak karena klo lagi ada ingus kan kudu di lap, mau anak ingusan kek anak baru gede kek, klo udah ingusan ya mesti di lap lah, hha. Masa dibiarin ngucur, iyyhhh …

#pembaca garuk2 ingus, eh kepala.

Perasaan baru kemaren juga gue masuk ke kampus ini dengan serentetan ritual ospek yang sedikit banyak mengganggu hidup gue. Berangkat subuh-subuh. Makan siang zuhur-zuhur. Panas-panasan ashar-ashar. Pulang maghrib-maghrib. Beli keperluan ospek isya-isya. Padat banget jadwal gue waktu itu.

Nggak nyadar juga waktu itu kalo ternyata ke depannya ada yang lebih ekstrim. Bolak-balik lab fisika. Lab kimia. Lab matematika, eh nggak deng. Ngerjain bejibun tugas. Belajar mati-matian buat UAS. Dan akhirnya sekarang tiba-tiba udah semester lima aja. Dan lo tau ada apa di semester lima? Ada banyak pengalaman baru yang berbeda dari semester sebelumnya.

What is that?

Check this Out!


This is my story about SEMESTER LIMA.
*Klik Link di bawah ini :) 
COMBI #Part_One

Selasa, 19 Januari 2016

Segera Launching!

Hai kawan-teman!
(kawan-teman? maksudnya kawan-kawan dan teman-teman, bisa juga kawannya teman, hmmh? #mikir)

Segera Launching tulisan labil mahasiswi biasa...
dalam
COMBI!!!!!!
Coretan Mahasiswi Biasa
Edisi Semester lima ...

Penasaran kan?
Ntar deh klo udah launching gue kabarin lagi yak >_<

Dah Yu Babay !!!

Jumat, 15 Januari 2016

Life is a Choice


Terkadang jujur memang benar-benar menyakitkan.

Melihat mereka yang sudah semena-mena dalam menjawab soal ujian. Bekerja sama, mencontek, membawa cerpe’an, bahkan yang terparah adalah memberi uang suap. Lalu tiba-tiba mendapatkan nilai di atas kita.

Sedangkan kita yang belajar mati-matian, berusaha untuk tidak mencontek, bahkan tidak berani mengeluarkan sepeser uang suap pun, hanya bisa mendapatkan nilai pas-pasan.

Menyakitkan, bukan?

Tapi sadarilah kawan, bukan kertas-kertas soal itu ujian yang sesungguhnya. Bukan jawaban-jawaban benar itu hasil akhirnya. Bukan nilai-nilai yang tinggi itu penentu lulus atau tidak ujian sesungguhnya.

Melainkan “cara” kita mendapatkannya yang sebenarnya adalah sebuah ujian.

Apakah kita lulus ujian untuk bisa membagi waktu belajar kita? Apakah kita lulus ujian untuk tidak mencontek? Apakah kita lulus ujian untuk tidak memberi uang suap? Apakah kita lulus ujian untuk tidak berbuat kecurangan-kecurangan di saat ujian berlangsung?

Maka jika kita masih melakukan kecurangan-kecurangan itu, walaupun tertulis nilai A sempurna tiada cacat. Sesungguhnya itu adalah keberhasilan semu. Kegagalan lah yang sebenarnya kita dapatkan. Gagal dalam ujian sebenarnya.

Lalu untuk memutuskan apakah kita ingin mendapatkan keberhasilan yang haqiqi atau kah keberhasilan yang semu itu. Kita lah yang menentukan. Bukan semata-mata hanya memikirkan keberhasilan di masa sekarang, tapi keberhasilan dalam jangka yang lebih panjang. Dunia dan akhirat.

Life is a choice.

Lain waktu jika Allah memberi kesempatan, akan aku tulis nasihat guru yang tak pernah terhapus di otak ini. Nasihat kesuksesan dunia akhirat. Insya Allah.