Rabu, 07 Oktober 2015
Sabtu, 03 Oktober 2015
Catatan Konyol
PG
Akhirnya
sampai juga. Di sini, di tempat yang sudah dua tahun aku tak mengunjunginya.
Ya, terhitung dua tahun saat terakhir kali aku menginjakkan kaki di tanah
penjara suci ini. Waktu itu ada acara Panggung gembira 615. Persis seperti
sekarang aku injakkan lagi kaki mungil ini di acara yang sama, Panggung gembira
617. Tepat dua tahun, bukan???
Betapa
senang bukan kepalang bisa kembali ke tempat penuh kenangan ini. Kenangan 4
tahun itu. 4 tahun yang dengan susah payah harus kulalui. Ahh, rasanya kalau
mengingat-ingat 4 tahun itu, aku jadi tertawa dibuatnya. Bisa-bisanya aku memutuskan
untuk menempuh waktu 4 tahun hanya demi “mencari pengalaman” yang berbeda dari
anak SMA lainnya. Konyol.
Ternyata
benar, suasana pondok ini sudah banyak perubahan. Seperti yang sering mereka
ceritakan, teman-teman pengabdian. Juga dari foto-foto yang di upload di
sosmed. Sejak kami –angkatan 14- resmi menjadi alumnus, semua yang di pondok
mulai berubah. Lebih baik tentunya. Gedung baru, taman-taman baru, panggung
permanen, semua baru. Sekarang aku benar-benar bisa menyaksikan perubahan itu. Senang
sekali rasanya.
Hiruk
pikuk acara Panggung Gembira mulai terasa. Sejak memasuki kawasan Cindai Alus
tadi, lampu sorot PG yang selalu tidak pernah ketinggalan setiap tahunnya mulai
terlihat. Dan sekarang aku sudah berada ditengah-tengah ribuan penonton acara
Panggung Gembira 617. Disampingku sudah ada puluhan alumni yang senasib
denganku, datang jauh-jauh demi menonton pertunjukan tahunan ini. Atau mungkin,
hanya aku yang datang dari jauh? Ahh aku tak peduli, yang penting hajatku
menonton PG tahun ini sudah terpenuhi.
Acara
pembukaan di mulai, ada Grand Opening, MC 3 bahasa, KOOR Angkatan, semua ini
mulai mengingatkanku pada PG 614. Yups, PG angkatan kami. Yang scorenya 9,98
itu. Aku tersenyum simpul.
“Hoaammh…”
aku mulai mengantuk.
Tidak,
tidak! Aku tidak boleh mengantuk! Walaupun acara ini dilaksanakan pada malam
hari, seharusnya tidak bisa membuat kantukku datang begitu saja. Aku sudah rela
datang dari provinsi sebelah cuma untuk menonton pertunjukan satu malam ini saja.
Dan tiba-tiba aku mengantuk? No no no, ini tidak boleh terjadi.
Zzzzz…
Oke,
then. Sekarang aku benar-benar tertidur. Di tengah hiruk pikuknya acara
Panggung Gembira.
***
“Wit!
Hei! Sadar, Wit, Sadar!!!”
Kubuka
mata perlahan. Otak kecilku tiba-tiba membangunkanku. Membangunkanku dari
khayalan tingkat tinggi Si Alumnus Santriwati ini. Yah, yah, yah. Kau benar. Semua
ini hanyalah khayalan belaka. Panggung itu, pondok itu, hiruk-pikuk PG itu. Semua
khayalan. Khayalan yang seharusnya menjadi nyata setelah dua hari yang lalu aku
sudah merencanakannya.
Dan
nyatanya, aku di sini. Di kota yang divonis sebagai kota terpolusi di dunia
gara-gara asap kebakaran hutan yang semakin menebal. Tepatnya aku berada di
depan laptop kesayangan yang keyboardnya udah kongslet-untung ada keyboard
eksternal-. Aku memang menyaksikan PG itu, tapi dari laptop kesayangan ini. Menyaksikan
sekian foto yang para alumni –yang sungguhan berada di depan panggung gembira- upload.
Sungguh
konyol.
Hufth,
aku hanya ingin bilang pada dunia.
Aku
mau nonton PG.
Udah
itu aja.
*for
all readers, maafkan alumnus yang penuh khayalan konyol ini, yang masih belum
bisa move on sama yang namanya pondok.
BYE.
Palangka Raya, 3 Oktober 2015.
Langganan:
Komentar (Atom)