Sabtu, 03 Oktober 2015

Catatan Konyol

PG

Akhirnya sampai juga. Di sini, di tempat yang sudah dua tahun aku tak mengunjunginya. Ya, terhitung dua tahun saat terakhir kali aku menginjakkan kaki di tanah penjara suci ini. Waktu itu ada acara Panggung gembira 615. Persis seperti sekarang aku injakkan lagi kaki mungil ini di acara yang sama, Panggung gembira 617. Tepat dua tahun, bukan???
Betapa senang bukan kepalang bisa kembali ke tempat penuh kenangan ini. Kenangan 4 tahun itu. 4 tahun yang dengan susah payah harus kulalui. Ahh, rasanya kalau mengingat-ingat 4 tahun itu, aku jadi tertawa dibuatnya. Bisa-bisanya aku memutuskan untuk menempuh waktu 4 tahun hanya demi “mencari pengalaman” yang berbeda dari anak SMA lainnya. Konyol.
Ternyata benar, suasana pondok ini sudah banyak perubahan. Seperti yang sering mereka ceritakan, teman-teman pengabdian. Juga dari foto-foto yang di upload di sosmed. Sejak kami –angkatan 14- resmi menjadi alumnus, semua yang di pondok mulai berubah. Lebih baik tentunya. Gedung baru, taman-taman baru, panggung permanen, semua baru. Sekarang aku benar-benar bisa menyaksikan perubahan itu. Senang sekali rasanya.
Hiruk pikuk acara Panggung Gembira mulai terasa. Sejak memasuki kawasan Cindai Alus tadi, lampu sorot PG yang selalu tidak pernah ketinggalan setiap tahunnya mulai terlihat. Dan sekarang aku sudah berada ditengah-tengah ribuan penonton acara Panggung Gembira 617. Disampingku sudah ada puluhan alumni yang senasib denganku, datang jauh-jauh demi menonton pertunjukan tahunan ini. Atau mungkin, hanya aku yang datang dari jauh? Ahh aku tak peduli, yang penting hajatku menonton PG tahun ini  sudah terpenuhi.
Acara pembukaan di mulai, ada Grand Opening, MC 3 bahasa, KOOR Angkatan, semua ini mulai mengingatkanku pada PG 614. Yups, PG angkatan kami. Yang scorenya 9,98 itu. Aku tersenyum simpul.
“Hoaammh…” aku mulai mengantuk.
Tidak, tidak! Aku tidak boleh mengantuk! Walaupun acara ini dilaksanakan pada malam hari, seharusnya tidak bisa membuat kantukku datang begitu saja. Aku sudah rela datang dari provinsi sebelah cuma untuk menonton pertunjukan satu malam ini saja. Dan tiba-tiba aku mengantuk? No no no, ini tidak boleh terjadi.
Zzzzz…
Oke, then. Sekarang aku benar-benar tertidur. Di tengah hiruk pikuknya acara Panggung Gembira.
***
“Wit! Hei! Sadar, Wit, Sadar!!!”
Kubuka mata perlahan. Otak kecilku tiba-tiba membangunkanku. Membangunkanku dari khayalan tingkat tinggi Si Alumnus Santriwati ini. Yah, yah, yah. Kau benar. Semua ini hanyalah khayalan belaka. Panggung itu, pondok itu, hiruk-pikuk PG itu. Semua khayalan. Khayalan yang seharusnya menjadi nyata setelah dua hari yang lalu aku sudah merencanakannya.
Dan nyatanya, aku di sini. Di kota yang divonis sebagai kota terpolusi di dunia gara-gara asap kebakaran hutan yang semakin menebal. Tepatnya aku berada di depan laptop kesayangan yang keyboardnya udah kongslet-untung ada keyboard eksternal-. Aku memang menyaksikan PG itu, tapi dari laptop kesayangan ini. Menyaksikan sekian foto yang para alumni –yang sungguhan berada di depan panggung gembira- upload.
Sungguh konyol.
Hufth, aku hanya ingin bilang pada dunia.
Aku mau nonton PG.
Udah itu aja.
*for all readers, maafkan alumnus yang penuh khayalan konyol ini, yang masih belum bisa move on sama yang namanya pondok.
BYE.
Palangka Raya, 3 Oktober 2015.