Sabtu, 03 Oktober 2015

Catatan Konyol

PG

Akhirnya sampai juga. Di sini, di tempat yang sudah dua tahun aku tak mengunjunginya. Ya, terhitung dua tahun saat terakhir kali aku menginjakkan kaki di tanah penjara suci ini. Waktu itu ada acara Panggung gembira 615. Persis seperti sekarang aku injakkan lagi kaki mungil ini di acara yang sama, Panggung gembira 617. Tepat dua tahun, bukan???
Betapa senang bukan kepalang bisa kembali ke tempat penuh kenangan ini. Kenangan 4 tahun itu. 4 tahun yang dengan susah payah harus kulalui. Ahh, rasanya kalau mengingat-ingat 4 tahun itu, aku jadi tertawa dibuatnya. Bisa-bisanya aku memutuskan untuk menempuh waktu 4 tahun hanya demi “mencari pengalaman” yang berbeda dari anak SMA lainnya. Konyol.
Ternyata benar, suasana pondok ini sudah banyak perubahan. Seperti yang sering mereka ceritakan, teman-teman pengabdian. Juga dari foto-foto yang di upload di sosmed. Sejak kami –angkatan 14- resmi menjadi alumnus, semua yang di pondok mulai berubah. Lebih baik tentunya. Gedung baru, taman-taman baru, panggung permanen, semua baru. Sekarang aku benar-benar bisa menyaksikan perubahan itu. Senang sekali rasanya.
Hiruk pikuk acara Panggung Gembira mulai terasa. Sejak memasuki kawasan Cindai Alus tadi, lampu sorot PG yang selalu tidak pernah ketinggalan setiap tahunnya mulai terlihat. Dan sekarang aku sudah berada ditengah-tengah ribuan penonton acara Panggung Gembira 617. Disampingku sudah ada puluhan alumni yang senasib denganku, datang jauh-jauh demi menonton pertunjukan tahunan ini. Atau mungkin, hanya aku yang datang dari jauh? Ahh aku tak peduli, yang penting hajatku menonton PG tahun ini  sudah terpenuhi.
Acara pembukaan di mulai, ada Grand Opening, MC 3 bahasa, KOOR Angkatan, semua ini mulai mengingatkanku pada PG 614. Yups, PG angkatan kami. Yang scorenya 9,98 itu. Aku tersenyum simpul.
“Hoaammh…” aku mulai mengantuk.
Tidak, tidak! Aku tidak boleh mengantuk! Walaupun acara ini dilaksanakan pada malam hari, seharusnya tidak bisa membuat kantukku datang begitu saja. Aku sudah rela datang dari provinsi sebelah cuma untuk menonton pertunjukan satu malam ini saja. Dan tiba-tiba aku mengantuk? No no no, ini tidak boleh terjadi.
Zzzzz…
Oke, then. Sekarang aku benar-benar tertidur. Di tengah hiruk pikuknya acara Panggung Gembira.
***
“Wit! Hei! Sadar, Wit, Sadar!!!”
Kubuka mata perlahan. Otak kecilku tiba-tiba membangunkanku. Membangunkanku dari khayalan tingkat tinggi Si Alumnus Santriwati ini. Yah, yah, yah. Kau benar. Semua ini hanyalah khayalan belaka. Panggung itu, pondok itu, hiruk-pikuk PG itu. Semua khayalan. Khayalan yang seharusnya menjadi nyata setelah dua hari yang lalu aku sudah merencanakannya.
Dan nyatanya, aku di sini. Di kota yang divonis sebagai kota terpolusi di dunia gara-gara asap kebakaran hutan yang semakin menebal. Tepatnya aku berada di depan laptop kesayangan yang keyboardnya udah kongslet-untung ada keyboard eksternal-. Aku memang menyaksikan PG itu, tapi dari laptop kesayangan ini. Menyaksikan sekian foto yang para alumni –yang sungguhan berada di depan panggung gembira- upload.
Sungguh konyol.
Hufth, aku hanya ingin bilang pada dunia.
Aku mau nonton PG.
Udah itu aja.
*for all readers, maafkan alumnus yang penuh khayalan konyol ini, yang masih belum bisa move on sama yang namanya pondok.
BYE.
Palangka Raya, 3 Oktober 2015.


Kamis, 17 September 2015

Hanya Perlu Bertahan Lebih Lama

Keren Nih Bray
Jadinya gue like deh
Berharap suatu saat kayak dia ini, mungkin hidup gue sekarang adalah masa seperti dia hidup pada tanggal yang tertera ini, pengennya apa yang dia alami sekarang adalah apa yang bakalan gue alami di masa depan
Menjadi Writer 'Beneran' bukan Incaan
-_-
Hanya perlu bertahan lebih lama


Sabtu, 23 Mei 2015

CaNgTer #Catatan_Sang_Debater *part-1

H-40 Going to MTQ-M 2015

Zina


Today, we’re as the participant of MTQ-M 2015 have to attend in debat exercising. As like what we have coincided before that we’ll exercise in English education room. And today the motion what we discuss is “The government would punish the adultery/ Zina”. And you know what team I am? Yes, I’m as opposition team. Firstly , I think that this is really not fair for me, why? Because as the opposition tim I must not agree with the motion, it means that I don’t agree that the government would punish the Zina. It’s really contrary to Islamic Law that every person who does the Zina has to be given the punishment. And I have been a gloomy girl.

But, when the exercising is began, I give my argument as the opposition tim, I explain every argument which I has collect it due a week, and I beg my mother praying too, and then you know what? I’m the winner for this first exercise, Alhamdulillah J J J

I really do not believe that I’m able to be a winner. Because with my bad english structure -and I believe that not every person can understand my speaking - I’m able to be a winner. Once more I wanna say Alhamdulillah, thanks to my beloved God, Allah SWT.

By this winning today, I hope I can do better for the next exercising. Because I realize and our trainer also said to me that my english structure is still bad, even if my argument is good. But, I have to learn english more. Yeah, I will do that. One thing what I wanna say to the world today.

“To be a good debater, I have to love debating.
Learn and learn until one day we will teach someone about something what we're learning today.”

Bismillah for National MTQ-M 2015

J

Rabu, 13 Mei 2015

Berhijablah Sebelum Dihijabkan

Hi guys...
Percaya ini gue??
Yups ini gue...
Gue yang ada di dalam kain kafan ini...
gimana rasanya?
Yawch,,, gerah!!! Apek!!! Mau keluar cepet2!!!
Pertama ustadz ngikat tali kain kafan satu-persatu, gue mulai gugup...
DEG-DEGAN!!!!
Jangan2 pas kain kafan ini di buka gue beneran ilang!!!
iiiiiiiiyyyy...........
Tapi untung ini cuma simulasi gimana cara mengafani yang baik dan benar...
Dan gue, sebagai korban simulasi benar2 merasakan gimana gerahnya di dalam kain kafan ini...
Bayangin!!!
Gue yang masih hidup dan belum tau amal gue seberapa aja udah kepanasan tingkat dewa,  dan kalau gue pengen ngelepasin ikatan kain kafannya juga masih bisa. Gimana dengan kita nanti pas meninggal beneran? Ketika amal2 yang kita bawa hanya sekiprit, ditambah lagi ketidak mampuan kita membuka kain kafan ini???
Apa yang akan kita lakukan sobat???
Yups sekedar mengingatkan saja, berhijablah sebelum dihijabkan.
Sholatlah sebelum di sholatkan.
Mandilah sebelum dimandikan... Ups,,, sudah pada mandi belom??? hihihi...
Lakukanlah yang terbaik, sebelum maut menghentikan segala asupan amal baik kita.




 #edisi_tobat



Rabu, 18 Maret 2015

Satu Mimpi Diwujudkan

Bermimpilah...
Jangan sekedar berangan-angan...
Bermimpilah...
Untuk kemudian diwujudkan...


*Foto ini diambil pas gue lagi uyuh2nya pulang dari kampus, tiba2 adink gue nunjuk satu paket dari pak pos, dan seketika uyuh gue pun hilang. Jujur, waktu itu gue langsung jingkrak2 nggak tau arah, ditambah senyum2 nggak jelas. Percayalah! Gue jujur!

Hello semua!!!

Masih ingat gue kan, yah? Hoho... Kali aja ada yang amnesia, soalnya udah lama banget nggak nulis di blog ini. Nih2 blognya udah lumutan, aish,,, bersihin dulu deh, pake vacum cleaner,,,

Okey, kali ini gue mau cerita about satu mimpi yang sudah Allah wujudkan.
Be a writer...
Alhamdulillah, segala puji memang benar2 harus diperuntukkan hanya kepada Allah. Tempat penggantung semua harapan, harapan yang bukan sekedar angan2. Tapi harapan yang pasti akan diwujudkan.

Dari sekian tahun lika-liku gue pengen jadi penulis, akhirnya hari ini 18 Maret 2015, satu buku yang didalamnya tertera nama gue sudah ada dalam genggaman. “Saksikan Perjalanan Kami Menuju Impian” judul bukunya. Adalah buku antologi yang ditulis keroyokan oleh 71 writers yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk gue.

Gue seneng banget, dan tentunya bersyukur banget sama Allah SWT yang udah ngabulin mimpi gue pengen jadi writer, sesuai dengan apa yang tertera di buku ini. Sebenarnya sih ada 6 impian yang udah gue tulis di buku antologi ini, dan satu sudah diwujudkan, yaitu “menjadi seorang penulis”. Penasaran kan, apa 5 impian gue yang lain yang udah gue tulis di buku ini? Udaaaah... beli aja bukunya!!! Bisa beli di penerbit zukzez express via online, atau datang langsung ke penerbitnya di Banjarbaru #eh_kok_gue_jadi_promosi_gini_?

Mmmh, walaupun ini cuma buku antologi dan bukan buku gue pribadi (maksudnya semua isi buku gue yang nulis), gue bersyukur banget. Menurut gue, ini adalah langkah awal menuju writer beneran suatu saat nanti, yang satu buku tulisan gue semuanya. Doain aja ya, guys, biar suatu saat nanti gue bisa punya buku sendiri, dan bisa jadi best seller, aamiin. J

Nih, gue lampirin profil penulis di bagian belakangnya, biar loe makin penasaran, jiahaha,,, :v
Profil gue, he2
Covernya coyyyy....

Satu lagi, semoga tulisan ini bukan ajang buat riya apalagi sombong gara2 gue udah jadi penulis, tapi bisa jadi inspirasi buat temen2 semua, kalo mimpi itu perlu diwujudkan, dan Allah lah Maha Pewujud Mimpi itu, So, kalo bermimpi jangan lupa bedoa, klo udah terwujud jangan lupa bessyukur. Itu!!! *gaya om Mario Teguh J


Rabu, 25 Februari 2015

Gue dan bunda Asma

Rabu, 25 Februari 2015

Jika Allah menghendaki segalanya terjadi,
Waktu, tempat, dan kronologinya pun tak ada yang tau,
Semua berjalan sesuai kehendaknya,
Dengan sebaik-baik alur cerita.



Hello, guys!!!

Let me tell my story. This story is about my unforgettable moment when I was in Pontianak, West Kalimantan. Especially unforgettable moment in writing experience. Ok, now let me tell this story by Indonesian. Check this out!!!

Satu lagi pengalaman yang great bingit bagi gue, khususnya di dunia kepenulisan. Tepatnya di Pontianak, Sabtu, 21 Februari 2015. Waktu itu gue berada di Pontianak gara-gara terjerumus dalam dunia dakwah yaitu acara Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional yang diselenggarakan pada tanggal 20-22 Februari 2015. Nah, kebetulan banget hari sabtu itu ada seminar umum dengan tema “Be a better muslim family” dimana salah satu pematerinya adalah Penulis masyhuroh, Asma Nadia.

Rasa nggak percaya bisa ketemu sama bunda Asma Nadia di acara ini. Bisa beli bukunya, minta tanda tangannya, dan juga dapat kesempatan foto bareng sama Bunda Asma. Setelah beberapa hari sebelumnya gue sama family gue yakni ; abah, mama, dan isah baru aja ngeliat bunda Asma Nadia di TV One. Subhanallah banget, Allah mempertemukan gue dengan penulis seterkenal Asma Nadia Menurut gue, ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi ada rencana yang Allah tuliskan di Lauh Mahfuz sana.

Jadi kronologi cerita pertemuan gue dan Bunda Asma Nadia tidak sependek yang kita bayangkan, yang tiba2 ketemu trus foto bareng. Tapi ada alur2 cerita yang bakalan gue kupas abis di sini, sampe akhirnya gue kejepret sama Bunda Asma Nadia.

Awalnya sebelum berangkat ke Pontianak buat ngikutin acara FSLDKN XVII ini, gue udah pernah dengar kedatangan bunda Asma dan juga Oki Setiana Dewi. Tapi yang ada di otak gue waktu itu adalah Oki nya bukan bunda Asma nya. Nah, pas udah nyampe di Pontianak, tiba2 ada spanduk depan kampus yang memampangkan wajah bunda Asma. Pas disitu gue baru sadar.

“Hei, ada Asma Nadia!!!” ucap gue panik waktu di travel.

Entah kenapa waktu itu gue jadi panik sendiri. Tentunya dengan ekspresi worry abis plus2 muha kurisaan kada sing mandian dari kalteng ke kalbar. Oh, iya, gue belum bilang kenapa gue bisa jadi sepanik itu. Jadi gue panik gara2 gue nggak ada bawa satupun buku nya Asma Nadia. Pas ngeliat mukanya bunda Asma di spanduk gue langsung terbesit buku Assalaamu’alaikum Beijing yang tersusun rapi di rumah gue yang baru aja gue beli beberapa bulan yang lalu dan juga udah jadi film layar lebar di Indonesia. Di travel gue langsung menghayal2 bisa foto sama Bunda Asma dengan buku Assalaamualaikum Beijing yang gue punya. Tap rasanya semua hayalan gue ilang pas inget kalo buku itu ketinggalan. Gue Cuma bisa tawakkal aja.

Then, pas hari H, yaitu tanggal 21 Februari 2015, sehabis mengikuti seminar pendikar atau pendidikan karakter, gue langsung ngajak Siti, Laili, sama Aisyah buat nyari bukunya bunda Asma di bazar. Gara-garanya bunda Asma bakalan ngisi seminar pas jam 13.00 atau abis Zuhur. Kita2pun kujuk2 di padang bazar. Pasnya udah di bazar, langsung ke tempat penjualan buku. Tapi ternyata nggak ada satupun bukunya Asma Nadia di tumpukan penjualan buku itu. Lalulah gue pasrah, kalo emang bukan takdir gue bisa foto bareng sama penulis terkenal, gue ikhlas kok kalo suatu saat nanti gue yang jadi penulis terkenalnya dan semua orang pengen foto bareng ama gue. Eh?

Di tengah2 kepasrahan nggak bakal bisa foto bareng sama penulis terkenal, gue isi detik-detik seminarnya Asma Nadia dengan jalan2 di bazar bersama Laili, Siti dan Aisyah. Gara2 nggak dapat bukunya Asma, jadilah kita2 ngeliatin bazarnya rabbani yang diskon 10%, trus abis itu beli es doger 5000an. Akhirnya, balik lagi ke auditorium buat ngambil makan siang dan menikmati es doger ala ponti. Tentunya dengan rasa kecewa nggak nemu bukunya bunda Asma.

Lalulah kita duduk di auditorium, dengan sekotak nasi dan segelas es doger. Tiba2 ada nuli yang manggil gue dari belakang.

“Wiwit!!!” teriaknya.

Dan gue menoleh. Seketika terbesit bukunya bunda Asma di wajah Nuli.

“Hemmh, gue rasa Nuli punya buku bunda Asma,” gumam gue dalam hati.

Gue pun langsung menuju Nuli dan nanyain punya bukunya bunda Asma ato nggak, dan ternyata jawabannya adalah nggak. Terus gue tanyain juga apakah nuli ada liat orang yang jualan bukunya Asma nadia, dan ternyata lagi-lagi jawabannya nuli dalah “nggak”. Hufht, baru aja gue dikasih harapan baru dengan munculnya wajah nuli di gedung seminar ini ternyata lagi2 gue dihadapkan dalam kepasrahan.

Pas gue udah pasrah2nya, tiba2 ada ukhty2 yang lewat sambil ngetenteng2 bukunya bunda Asma yang masih pake plastik.

“Hei!!!” ucap gue terbesit sesuatu,” kalo dia punya buku yang masih ada plastiknya, berarti....” gue langsung berasa dapat hidayah. Kayaknya itu buku emang ada dijual di sini. Langsung lah gue cegat itu ukhty2 yang bawa2 buku Asma Nadia yang masih ada plastiknya.

“Ukhty!!!” cegat gue.

“Iya,” ujar ukhtynya menoleh.

“Itu buku Asma Nadia belinya dimana?”

“Itu dibelakang, ukh...” ujarnya.

Langsunglah tatapan tajam gue menuju belakang tempat duduk peserta. Gue liat ada banyak orang di belakang. Lalulah gue ngajakin Siti, Laili, dan Aisyah buat beli bukunya bunda Asma.

Sesampainya di belakang gue berasa amazing banget, di hadapan mata gue udah ada yang namanya bunda Asma Nadia, penulis terkenal yang udah berkunjung ke 59 Negara dan 200an kota. Penulis yang baru aja gue sekeluarga nonton di TV one. Penulis buku Assalaamu’alaikum Beijing yang bukunya dengan ceroboh gue tinggal di Palangka Raya sana. Sekali lagi gue berasa amazing. Then, untungnya gue nggak cuma ngeliat wajah bunda Asma nya aja, tapi juga buku2nya. Jadilah gue beli buku pesantren impian dengan harga 52.000 rupiah. Kembaliannya 3000 dong pastinya yah.

Habis itu gue langsung ke kerumunan bunda Asma. Banyak yang mau foto bareng, termasuk gue. Guepun berjejal2 dengan para akhwat yang juga pengen foto bareng sama bunda Asma. Pas udah hampir punya kesempatan foto sama bunda Asma Nadia, tiba2 bunda Asma nya negur gue.

“Itu plastiknya dibuka dulu biar langsung ditanda tanganin...” ujar beliau.

Nyesssss..... rasanya hati gue tuh langsung meleleh. Bayangin aja , gue disuruh buka plastik buku, sama bunda Asma Nadia. Huahhh keren banget. Langsung dah tuh gue buka plastiknya, dan minta tanda tangnnya, n then foto bareng. Senengnya......

Jadi begitu deh kronologi pertemuan gue sama bunda Asma. Sebenarnya sih gue sampe dua kali foto sama bunda Asma, ba’da zuhur dan b’ada ashar. Aji mumpung bray. Klo ada kesempatan kenapa nggak diambil kan, iya toh???

Gue berharap, dengan dipertemukannya gue sama penulis seterkenal Asma Nadia ini, sedikit banyak motivasi kepenulisan gue bisa meningkat. Dan syukur2 kalo bakatnya bunda Asma bisa ketular ke gue. Ha2, AMIN!!! Ya Robbal Alamin.




Minggu, 11 Januari 2015

Sahabat, apa kabar? Aku kangen...

#Ahad, 11 Januari 2015

Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Kangen waktu kita belajar ABC bareng...
Kangen waktu kita belajar 123 bareng...
Kangen juga waktu kita harus dikejar-kejar sama guru SD yang punya angsa-angsa itu...
Ahh,,,
Mungkin waktu “sebelum putih merah” itu sudah amat sangat terlalu lama, sahabat...
Tapi aku masih ingat kok...
Kamu masih ingat kan???

Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Kangen waktu pertama kita ketemu pas aku jadi murid baru...
Iya, waktu kelas tiga itu...
Kangen waktu kita dihukum bareng..
Gara-gara belanja pentol pas bel masuk kelas udah bunyi...
Kangen waktu kita menghafal hadits di depan kelas bareng...
Kangen main keluarga hello kitty bareng pas bu guru ngejelasin pelajaran di depan...
Kangen juga waktu aku nginep di rumah kamu...
Ahh...
Mungkin waktu “putih merah” itu sudah terlalu lama, sahabat...
Tapi aku masih ingat kok...
Kamu masih ingat kan???

Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Waktu kita MOS bareng...
Kangen waktu kita ikutan kemah PMR bareng tiap bulan...
Kangen waktu main kejar-kejaran di masjid sekolah...
Kangen waktu kita nyari-nyari air wudhu bareng pas mau sholat dzuhur...
Kangen waktu kita sibuk nyari photo box di palma pas mau perpisahan...
Ahh,,,
Mungkin memori-memori waktu “putih biru” itu sudah mulai memudar, sahabat...
Tapi aku masih ingat kok...
Kamu juga masih ingat kan???

Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Kangen waktu kita harus bernasib sama dalam segala hal...
Jauh dari ortu, dihukum sana-sini, ngantri tiap waktu...
Kangen waktu kita ketawa bareng, sedih bareng, marah bareng, bahkan muflisah bareng...
Kangen kita bikin drama bareng, bikin mading bareng...
Kangen waktu kita jadi panitia bareng, begadang bareng, bangun kesiangan juga bareng...
Kangen kita dilantik bareng, check up bareng, jagain masjid bareng...
Kangen waktu kita bikin PG bareng, rihlah bareng, dan haflahnya juga bareng...
Kangen makan sepiring berdua, bertiga, bahkan keroyokan...
Ahh...
Kiranya memori suka-duka “putih-abu-abu” itu belum cukup lama terlewati, sahabat...
Aku masih ingat kok...
Kamu pasti masih ingat juga kan???

Wahai sahabat-sahabat di setiap masa yang pernah aku lewati...
Sungguh semua itu tidak gampang untuk dilupakan...
Bahkan ketika aku dalam kesibukan sekali pun, aku masih mengingat semua itu...
Aku harap, tidak hanya aku yang mengingat itu sahabat...
Tapi kamu juga...

Walau kita sudah jarang bersua, bahkan mungkin kita tidak pernah bersua lagi...
Tapi kenangan2 itu lah yang menjadi tali kita sahabat...
Tali persahabatan yang harus terikat sampai akhirat nanti...
Biar kita bisa ketemu lagi...
Ketemu di surganya Illahi...
AMIN...


Kamis, 08 Januari 2015

Kala Ma’had Mati Lampu


Siapa yang nggak kesal kalo sudah mati listrik, atau lebih familiarnya kita bilang “mati lampu” (walaupun pada kenyataannya yang mati nggak cuma lampu). Apalagi kalo mati lampu pas malam hari di ma’had. Akan ada banyak kejadian di detik-detik setelah mati lampu, apa itu?
Check it out:

     1.       Semuanya bakalan teriak “aaaa”



Yups, respond pertama kalo ma’had mati lampu (khususnya malam hari ya ukh) adalah tereak “aaa”. Entah di kamar, di hammam, di mat’am, bahkan di masjid sekalipun. Apalagi kalo mati lampunya pas lagi wirid sholat (maghrib n isya sih biasanya), maka masjid akan didengungkan dengan teriakan “aaa” seketika. Parahnya nih ukh, kalo mati lampunya pas lagi khusyuk2nya sholat, ada-ada aja santri yang tiba-tiba tereak “aaa” pas sholat. Ckckck... kaget stadium empat kali dianya yak, untung mati lampu, jadi kagak ketahuan siapa yang tereak, ups...


     2.      Beberapa orang sekitar bakalan sesak nafas



Nah, setelah masjid didengungkan dengan tereakan ”aaa”, biasanya setelah mati lampu juga akan terdengar beberapa santri yang sesak nafas. Santri-santri yang punya penyakit (asma sih biasanya) bakalan kambuh seketika. Para mudabbiroh (atau munazzimah ya sekarang namanya) juga bakalan sibuk seketika ngangkutin santri-santri yang pada sesak nafas. Nggak cuma qismus sihah yang sibuk, qism yang lain juga. Ada yang ngangkat si santri, ada yang ngambil tandu, ada juga yang ngambilin alat apa ituh namanya buat yang punya penyakit asma biasanya, ane jadi pikun dadakan nih (hedeh, bilang aja kagak tau). Dan masjid pun jadi tempat evakuasi dadakan seketika. (*pas masjid lagi riuh-riuhnya sama para santri yang asma, ada aja santri yang pura-pura sesak nafas, biar lebih riuh lagi, termasuk ane juga pernah, wkwk...)


     3.       Bakalan ada yang kesurupan juga

Poto orang kesurupan pas mati lampu, begini adanya -_-

Kalo yang punya penyakit asama, tinggal dievakuasi, diambilin alat yang ane nggak tau namanya itu, udah selesai, tinggal nunggu penyembuhan. Yang parah itu, kalo udah mati lampu, ada-ada aja yang kesurupan, kesambet lah bahasa kerennya. Entah karena saking takutnya kegelapan dan tiba-tiba pikiran kosong terus dimasukin jin, atau ada alasan lain, kurang tau juga. Yang ribetnya itu, masa penyembuhan santri-santri yang kesambet ini, biar lampu udah idup juga nggak menjamin si jin mau keluar, perlu Ustadz/ustadzah ahli dalam menangani kasus ini.


    4.       Jadi hafizah dadakan


Nah ini salah satu untungnya mati lampu, para santri biasanya jadi hafidzah dadakan. Utamanya ketika mati lampu pas lagi baca qur’an. Pas mikrofon mati, dan nggak bisa liat alqur’an gara-gara gelap, para santri nggak langsung berhenti baca Qur’annya. Mereka bakalan meneruskan bacaan Alqur’annya sampai selesai, yang tadinya rada-rada nggak hafal, tiba-tiba jadi hafal itu Al-Qur’an. Biasanya sih baca suroh ad-dukhon atau almulk. Yah, mungkin udah keseringan baca dua suroh itu jadi pas mati lampu pun nggak menghalangi buat baca dua surah itu kali yak. Subhanallah...


    5.       Ngambil kesempatan dalam kesempitan


Yang satu ini nggak oleh ditiru nih ukh. Pas udah mati lampu, yang lain lagi sibuk ngangkutin santri yang sesak nafas, atau lagi baca suroh gelap-gelapan, ada aja santri yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidur, salah satunya. Dengan suasana gelap yang sangat mendukung, ditambah nggak ada yang ngawasin, maka kesempatan untuk tidur bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walaupun mati lampu biasanya cuma sebentar, tapi waktu itu begitu berharga bukan jika dimanfaatkan sebaik-baiknya? Hoho


Sebenarnya masih banyak lagi kejadian-kejadian unik yang cuma terjadi di kala ma’had mati lampu. Tapi karena ane rada-rada pikun karena sudah bertahun-tahun nggak berkutat sama yang namanya ma’had, jadi yang ingatnya cuma lima itu doank, mungkin para readers ada yang masih inget kejadian unik apa lagi kala ma’had mati lampu, boleh lah ditambahin, tulis aja dikomentar ya ukh... ^_^

Thanks for reading J