Rabu, 07 Oktober 2015
Sabtu, 03 Oktober 2015
Catatan Konyol
PG
Akhirnya
sampai juga. Di sini, di tempat yang sudah dua tahun aku tak mengunjunginya.
Ya, terhitung dua tahun saat terakhir kali aku menginjakkan kaki di tanah
penjara suci ini. Waktu itu ada acara Panggung gembira 615. Persis seperti
sekarang aku injakkan lagi kaki mungil ini di acara yang sama, Panggung gembira
617. Tepat dua tahun, bukan???
Betapa
senang bukan kepalang bisa kembali ke tempat penuh kenangan ini. Kenangan 4
tahun itu. 4 tahun yang dengan susah payah harus kulalui. Ahh, rasanya kalau
mengingat-ingat 4 tahun itu, aku jadi tertawa dibuatnya. Bisa-bisanya aku memutuskan
untuk menempuh waktu 4 tahun hanya demi “mencari pengalaman” yang berbeda dari
anak SMA lainnya. Konyol.
Ternyata
benar, suasana pondok ini sudah banyak perubahan. Seperti yang sering mereka
ceritakan, teman-teman pengabdian. Juga dari foto-foto yang di upload di
sosmed. Sejak kami –angkatan 14- resmi menjadi alumnus, semua yang di pondok
mulai berubah. Lebih baik tentunya. Gedung baru, taman-taman baru, panggung
permanen, semua baru. Sekarang aku benar-benar bisa menyaksikan perubahan itu. Senang
sekali rasanya.
Hiruk
pikuk acara Panggung Gembira mulai terasa. Sejak memasuki kawasan Cindai Alus
tadi, lampu sorot PG yang selalu tidak pernah ketinggalan setiap tahunnya mulai
terlihat. Dan sekarang aku sudah berada ditengah-tengah ribuan penonton acara
Panggung Gembira 617. Disampingku sudah ada puluhan alumni yang senasib
denganku, datang jauh-jauh demi menonton pertunjukan tahunan ini. Atau mungkin,
hanya aku yang datang dari jauh? Ahh aku tak peduli, yang penting hajatku
menonton PG tahun ini sudah terpenuhi.
Acara
pembukaan di mulai, ada Grand Opening, MC 3 bahasa, KOOR Angkatan, semua ini
mulai mengingatkanku pada PG 614. Yups, PG angkatan kami. Yang scorenya 9,98
itu. Aku tersenyum simpul.
“Hoaammh…”
aku mulai mengantuk.
Tidak,
tidak! Aku tidak boleh mengantuk! Walaupun acara ini dilaksanakan pada malam
hari, seharusnya tidak bisa membuat kantukku datang begitu saja. Aku sudah rela
datang dari provinsi sebelah cuma untuk menonton pertunjukan satu malam ini saja.
Dan tiba-tiba aku mengantuk? No no no, ini tidak boleh terjadi.
Zzzzz…
Oke,
then. Sekarang aku benar-benar tertidur. Di tengah hiruk pikuknya acara
Panggung Gembira.
***
“Wit!
Hei! Sadar, Wit, Sadar!!!”
Kubuka
mata perlahan. Otak kecilku tiba-tiba membangunkanku. Membangunkanku dari
khayalan tingkat tinggi Si Alumnus Santriwati ini. Yah, yah, yah. Kau benar. Semua
ini hanyalah khayalan belaka. Panggung itu, pondok itu, hiruk-pikuk PG itu. Semua
khayalan. Khayalan yang seharusnya menjadi nyata setelah dua hari yang lalu aku
sudah merencanakannya.
Dan
nyatanya, aku di sini. Di kota yang divonis sebagai kota terpolusi di dunia
gara-gara asap kebakaran hutan yang semakin menebal. Tepatnya aku berada di
depan laptop kesayangan yang keyboardnya udah kongslet-untung ada keyboard
eksternal-. Aku memang menyaksikan PG itu, tapi dari laptop kesayangan ini. Menyaksikan
sekian foto yang para alumni –yang sungguhan berada di depan panggung gembira- upload.
Sungguh
konyol.
Hufth,
aku hanya ingin bilang pada dunia.
Aku
mau nonton PG.
Udah
itu aja.
*for
all readers, maafkan alumnus yang penuh khayalan konyol ini, yang masih belum
bisa move on sama yang namanya pondok.
BYE.
Palangka Raya, 3 Oktober 2015.
Kamis, 17 September 2015
Hanya Perlu Bertahan Lebih Lama
Keren Nih Bray
Jadinya gue like deh
Berharap suatu saat kayak dia ini, mungkin hidup gue sekarang adalah masa seperti dia hidup pada tanggal yang tertera ini, pengennya apa yang dia alami sekarang adalah apa yang bakalan gue alami di masa depan
Menjadi Writer 'Beneran' bukan Incaan
-_-
Hanya perlu bertahan lebih lama
Jadinya gue like deh
Berharap suatu saat kayak dia ini, mungkin hidup gue sekarang adalah masa seperti dia hidup pada tanggal yang tertera ini, pengennya apa yang dia alami sekarang adalah apa yang bakalan gue alami di masa depan
Menjadi Writer 'Beneran' bukan Incaan
-_-
Hanya perlu bertahan lebih lama
Minggu, 30 Agustus 2015
Sabtu, 23 Mei 2015
CaNgTer #Catatan_Sang_Debater *part-1
H-40 Going to MTQ-M 2015
Zina
Today, we’re as
the participant of MTQ-M 2015 have to attend in debat exercising. As like what
we have coincided before that we’ll exercise in English education room. And
today the motion what we discuss is “The government would punish the adultery/
Zina”. And you know what team I am? Yes, I’m as opposition team. Firstly , I
think that this is really not fair for me, why? Because as the opposition tim I
must not agree with the motion, it means that I don’t agree that the government
would punish the Zina. It’s really contrary to Islamic Law that every person
who does the Zina has to be given the punishment. And I have been a gloomy
girl.
But, when the exercising
is began, I give my argument as the opposition tim, I explain every argument
which I has collect it due a week, and I beg my mother praying too, and then
you know what? I’m the winner for this first exercise, Alhamdulillah J J J
I really do not
believe that I’m able to be a winner. Because with my bad english structure -and
I believe that not every person can understand my speaking - I’m able to be a
winner. Once more I wanna say Alhamdulillah, thanks to my beloved God, Allah SWT.
By this winning
today, I hope I can do better for the next exercising. Because I realize and
our trainer also said to me that my english structure is still bad, even if my
argument is good. But, I have to learn english more. Yeah, I will do that. One
thing what I wanna say to the world today.
“To
be a good debater, I have to love debating.
Learn
and learn until one day we will teach someone about something what we're learning today.”
Bismillah
for National MTQ-M 2015
J
Rabu, 13 Mei 2015
Berhijablah Sebelum Dihijabkan
Hi guys...
Percaya ini gue??
Yups ini gue...
Gue yang ada di dalam
kain kafan ini...
gimana rasanya?
Yawch,,, gerah!!! Apek!!!
Mau keluar cepet2!!!
Pertama ustadz ngikat
tali kain kafan satu-persatu, gue mulai gugup...
DEG-DEGAN!!!!
Jangan2 pas kain kafan ini
di buka gue beneran ilang!!!
iiiiiiiiyyyy...........
Tapi untung ini cuma
simulasi gimana cara mengafani yang baik dan benar...
Dan gue, sebagai korban
simulasi benar2 merasakan gimana gerahnya di dalam kain kafan ini...
Bayangin!!!
Gue yang masih hidup dan
belum tau amal gue seberapa aja udah kepanasan tingkat dewa, dan kalau gue pengen ngelepasin ikatan kain
kafannya juga masih bisa. Gimana dengan kita nanti pas meninggal beneran?
Ketika amal2 yang kita bawa hanya sekiprit, ditambah lagi ketidak mampuan kita
membuka kain kafan ini???
Apa yang akan kita
lakukan sobat???
Yups sekedar mengingatkan
saja, berhijablah sebelum dihijabkan.
Sholatlah sebelum di
sholatkan.
Mandilah sebelum
dimandikan... Ups,,, sudah pada mandi belom??? hihihi...
Lakukanlah yang terbaik,
sebelum maut menghentikan segala asupan amal baik kita.
#edisi_tobat
Rabu, 18 Maret 2015
Satu Mimpi Diwujudkan
Bermimpilah...
Jangan sekedar berangan-angan...
Bermimpilah...
Untuk kemudian diwujudkan...
Hello semua!!!
Masih ingat gue kan, yah? Hoho... Kali aja ada yang amnesia,
soalnya udah lama banget nggak nulis di blog ini. Nih2 blognya udah lumutan,
aish,,, bersihin dulu deh, pake vacum cleaner,,,
Okey, kali ini gue mau cerita about satu mimpi yang sudah
Allah wujudkan.
Be a writer...
Alhamdulillah, segala puji memang benar2 harus diperuntukkan hanya
kepada Allah. Tempat penggantung semua harapan, harapan yang bukan sekedar
angan2. Tapi harapan yang pasti akan diwujudkan.
Dari sekian tahun lika-liku gue pengen jadi penulis, akhirnya hari
ini 18 Maret 2015, satu buku yang didalamnya tertera nama gue sudah ada dalam
genggaman. “Saksikan Perjalanan Kami Menuju Impian” judul bukunya. Adalah buku
antologi yang ditulis keroyokan oleh 71 writers yang tersebar di seluruh
Indonesia, termasuk gue.
Gue seneng banget, dan tentunya bersyukur banget sama Allah SWT
yang udah ngabulin mimpi gue pengen jadi writer, sesuai dengan apa yang
tertera di buku ini. Sebenarnya sih ada 6 impian yang udah gue tulis di buku
antologi ini, dan satu sudah diwujudkan, yaitu “menjadi seorang penulis”. Penasaran
kan, apa 5 impian gue yang lain yang udah gue tulis di buku ini? Udaaaah...
beli aja bukunya!!! Bisa beli di penerbit zukzez express via online, atau
datang langsung ke penerbitnya di Banjarbaru #eh_kok_gue_jadi_promosi_gini_?
Mmmh, walaupun ini cuma buku antologi dan bukan buku gue pribadi (maksudnya
semua isi buku gue yang nulis), gue bersyukur banget. Menurut gue, ini adalah
langkah awal menuju writer beneran suatu saat nanti, yang satu buku
tulisan gue semuanya. Doain aja ya, guys, biar suatu saat nanti gue bisa punya
buku sendiri, dan bisa jadi best seller, aamiin. J
Nih, gue lampirin profil penulis di bagian belakangnya, biar loe
makin penasaran, jiahaha,,, :v
![]() |
| Profil gue, he2 |
![]() |
| Covernya coyyyy.... |
Satu lagi, semoga tulisan ini bukan ajang buat riya apalagi sombong
gara2 gue udah jadi penulis, tapi bisa jadi inspirasi buat temen2 semua, kalo
mimpi itu perlu diwujudkan, dan Allah lah Maha Pewujud Mimpi itu, So, kalo
bermimpi jangan lupa bedoa, klo udah terwujud jangan lupa bessyukur. Itu!!!
*gaya om Mario Teguh J
Rabu, 25 Februari 2015
Gue dan bunda Asma
Rabu, 25 Februari 2015
Jika Allah
menghendaki segalanya terjadi,
Waktu, tempat, dan
kronologinya pun tak ada yang tau,
Semua berjalan sesuai
kehendaknya,
Dengan sebaik-baik
alur cerita.
Hello, guys!!!
Let me tell my
story. This story is about my unforgettable moment when I was in Pontianak,
West Kalimantan. Especially unforgettable moment in writing experience. Ok, now
let me tell this story by Indonesian. Check this out!!!
Satu lagi
pengalaman yang great bingit bagi gue, khususnya di dunia kepenulisan. Tepatnya
di Pontianak, Sabtu, 21 Februari 2015. Waktu itu gue berada di Pontianak
gara-gara terjerumus dalam dunia dakwah yaitu acara Forum Silaturrahim Lembaga
Dakwah Kampus Nasional yang diselenggarakan pada tanggal 20-22 Februari 2015.
Nah, kebetulan banget hari sabtu itu ada seminar umum dengan tema “Be a better
muslim family” dimana salah satu pematerinya adalah Penulis masyhuroh, Asma
Nadia.
Rasa nggak
percaya bisa ketemu sama bunda Asma Nadia di acara ini. Bisa beli bukunya,
minta tanda tangannya, dan juga dapat kesempatan foto bareng sama Bunda Asma.
Setelah beberapa hari sebelumnya gue sama family gue yakni ; abah, mama, dan
isah baru aja ngeliat bunda Asma Nadia di TV One. Subhanallah banget, Allah
mempertemukan gue dengan penulis seterkenal Asma Nadia Menurut gue, ini
bukanlah sebuah kebetulan, tapi ada rencana yang Allah tuliskan di Lauh Mahfuz
sana.
Jadi kronologi
cerita pertemuan gue dan Bunda Asma Nadia tidak sependek yang kita bayangkan,
yang tiba2 ketemu trus foto bareng. Tapi ada alur2 cerita yang bakalan gue kupas
abis di sini, sampe akhirnya gue kejepret sama Bunda Asma Nadia.
Awalnya sebelum
berangkat ke Pontianak buat ngikutin acara FSLDKN XVII ini, gue udah pernah
dengar kedatangan bunda Asma dan juga Oki Setiana Dewi. Tapi yang ada di otak
gue waktu itu adalah Oki nya bukan bunda Asma nya. Nah, pas udah nyampe di
Pontianak, tiba2 ada spanduk depan kampus yang memampangkan wajah bunda Asma. Pas
disitu gue baru sadar.
“Hei, ada Asma
Nadia!!!” ucap gue panik waktu di travel.
Entah kenapa
waktu itu gue jadi panik sendiri. Tentunya dengan ekspresi worry abis
plus2 muha kurisaan kada sing mandian dari kalteng ke kalbar. Oh, iya, gue
belum bilang kenapa gue bisa jadi sepanik itu. Jadi gue panik gara2 gue nggak
ada bawa satupun buku nya Asma Nadia. Pas ngeliat mukanya bunda Asma di spanduk
gue langsung terbesit buku Assalaamu’alaikum Beijing yang tersusun rapi di
rumah gue yang baru aja gue beli beberapa bulan yang lalu dan juga udah jadi
film layar lebar di Indonesia. Di travel gue langsung menghayal2 bisa foto sama
Bunda Asma dengan buku Assalaamualaikum Beijing yang gue punya. Tap rasanya
semua hayalan gue ilang pas inget kalo buku itu ketinggalan. Gue Cuma bisa
tawakkal aja.
Then, pas hari
H, yaitu tanggal 21 Februari 2015, sehabis mengikuti seminar pendikar atau
pendidikan karakter, gue langsung ngajak Siti, Laili, sama Aisyah buat nyari
bukunya bunda Asma di bazar. Gara-garanya bunda Asma bakalan ngisi seminar pas
jam 13.00 atau abis Zuhur. Kita2pun kujuk2 di padang bazar. Pasnya udah di
bazar, langsung ke tempat penjualan buku. Tapi ternyata nggak ada satupun
bukunya Asma Nadia di tumpukan penjualan buku itu. Lalulah gue pasrah, kalo
emang bukan takdir gue bisa foto bareng sama penulis terkenal, gue ikhlas kok
kalo suatu saat nanti gue yang jadi penulis terkenalnya dan semua orang pengen
foto bareng ama gue. Eh?
Di tengah2
kepasrahan nggak bakal bisa foto bareng sama penulis terkenal, gue isi
detik-detik seminarnya Asma Nadia dengan jalan2 di bazar bersama Laili, Siti
dan Aisyah. Gara2 nggak dapat bukunya Asma, jadilah kita2 ngeliatin bazarnya
rabbani yang diskon 10%, trus abis itu beli es doger 5000an. Akhirnya, balik
lagi ke auditorium buat ngambil makan siang dan menikmati es doger ala ponti. Tentunya
dengan rasa kecewa nggak nemu bukunya bunda Asma.
Lalulah kita
duduk di auditorium, dengan sekotak nasi dan segelas es doger. Tiba2 ada nuli
yang manggil gue dari belakang.
“Wiwit!!!”
teriaknya.
Dan gue
menoleh. Seketika terbesit bukunya bunda Asma di wajah Nuli.
“Hemmh, gue
rasa Nuli punya buku bunda Asma,” gumam gue dalam hati.
Gue pun
langsung menuju Nuli dan nanyain punya bukunya bunda Asma ato nggak, dan
ternyata jawabannya adalah nggak. Terus gue tanyain juga apakah nuli ada liat orang
yang jualan bukunya Asma nadia, dan ternyata lagi-lagi jawabannya nuli dalah “nggak”.
Hufht, baru aja gue dikasih harapan baru dengan munculnya wajah nuli di gedung
seminar ini ternyata lagi2 gue dihadapkan dalam kepasrahan.
Pas gue udah
pasrah2nya, tiba2 ada ukhty2 yang lewat sambil ngetenteng2 bukunya bunda Asma
yang masih pake plastik.
“Hei!!!” ucap
gue terbesit sesuatu,” kalo dia punya buku yang masih ada plastiknya,
berarti....” gue langsung berasa dapat hidayah. Kayaknya itu buku emang ada
dijual di sini. Langsung lah gue cegat itu ukhty2 yang bawa2 buku Asma Nadia
yang masih ada plastiknya.
“Ukhty!!!”
cegat gue.
“Iya,” ujar
ukhtynya menoleh.
“Itu buku Asma
Nadia belinya dimana?”
“Itu
dibelakang, ukh...” ujarnya.
Langsunglah
tatapan tajam gue menuju belakang tempat duduk peserta. Gue liat ada banyak
orang di belakang. Lalulah gue ngajakin Siti, Laili, dan Aisyah buat beli
bukunya bunda Asma.
Sesampainya di
belakang gue berasa amazing banget, di hadapan mata gue udah ada yang namanya
bunda Asma Nadia, penulis terkenal yang udah berkunjung ke 59 Negara dan 200an
kota. Penulis yang baru aja gue sekeluarga nonton di TV one. Penulis buku Assalaamu’alaikum
Beijing yang bukunya dengan ceroboh gue tinggal di Palangka Raya sana. Sekali lagi
gue berasa amazing. Then, untungnya gue nggak cuma ngeliat wajah bunda Asma nya
aja, tapi juga buku2nya. Jadilah gue beli buku pesantren impian dengan harga
52.000 rupiah. Kembaliannya 3000 dong pastinya yah.
Habis itu gue
langsung ke kerumunan bunda Asma. Banyak yang mau foto bareng, termasuk gue. Guepun
berjejal2 dengan para akhwat yang juga pengen foto bareng sama bunda Asma. Pas
udah hampir punya kesempatan foto sama bunda Asma Nadia, tiba2 bunda Asma nya
negur gue.
“Itu plastiknya
dibuka dulu biar langsung ditanda tanganin...” ujar beliau.
Nyesssss.....
rasanya hati gue tuh langsung meleleh. Bayangin aja , gue disuruh buka plastik
buku, sama bunda Asma Nadia. Huahhh keren banget. Langsung dah tuh gue buka
plastiknya, dan minta tanda tangnnya, n then foto bareng. Senengnya......
Jadi begitu deh
kronologi pertemuan gue sama bunda Asma. Sebenarnya sih gue sampe dua kali foto
sama bunda Asma, ba’da zuhur dan b’ada ashar. Aji mumpung bray. Klo ada
kesempatan kenapa nggak diambil kan, iya toh???
Gue berharap,
dengan dipertemukannya gue sama penulis seterkenal Asma Nadia ini, sedikit
banyak motivasi kepenulisan gue bisa meningkat. Dan syukur2 kalo bakatnya bunda
Asma bisa ketular ke gue. Ha2, AMIN!!! Ya Robbal Alamin.
Minggu, 11 Januari 2015
Sahabat, apa kabar? Aku kangen...
#Ahad, 11 Januari 2015
Hai sahabat!!!
Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Kangen waktu kita belajar ABC bareng...
Kangen waktu kita belajar 123 bareng...
Kangen juga waktu kita harus dikejar-kejar sama guru SD yang
punya angsa-angsa itu...
Ahh,,,
Mungkin waktu “sebelum putih merah” itu sudah amat sangat terlalu
lama, sahabat...
Tapi aku masih ingat kok...
Kamu masih ingat kan???
Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Kangen waktu pertama kita ketemu pas aku jadi murid baru...
Iya, waktu kelas tiga itu...
Kangen waktu kita dihukum bareng..
Gara-gara belanja pentol pas bel masuk kelas udah bunyi...
Kangen waktu kita menghafal hadits di depan kelas bareng...
Kangen main keluarga hello kitty bareng pas bu guru
ngejelasin pelajaran di depan...
Kangen juga waktu aku nginep di rumah kamu...
Ahh...
Mungkin waktu “putih merah” itu sudah terlalu lama,
sahabat...
Tapi aku masih ingat kok...
Kamu masih ingat kan???
Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Waktu kita MOS bareng...
Kangen waktu kita ikutan kemah PMR bareng tiap bulan...
Kangen waktu main kejar-kejaran di masjid sekolah...
Kangen waktu kita nyari-nyari air wudhu bareng pas mau
sholat dzuhur...
Kangen waktu kita sibuk nyari photo box di palma pas mau
perpisahan...
Ahh,,,
Mungkin memori-memori waktu “putih biru” itu sudah mulai
memudar, sahabat...
Tapi aku masih ingat kok...
Kamu juga masih ingat kan???
Hai sahabat!!!
Apa kabar???
Aku kangen...
Kangen waktu kita harus bernasib sama dalam segala hal...
Jauh dari ortu, dihukum sana-sini, ngantri tiap waktu...
Kangen waktu kita ketawa bareng, sedih bareng, marah bareng,
bahkan muflisah bareng...
Kangen kita bikin drama bareng, bikin mading bareng...
Kangen waktu kita jadi panitia bareng, begadang bareng,
bangun kesiangan juga bareng...
Kangen kita dilantik bareng, check up bareng, jagain masjid
bareng...
Kangen waktu kita bikin PG bareng, rihlah bareng, dan
haflahnya juga bareng...
Kangen makan sepiring berdua, bertiga, bahkan keroyokan...
Ahh...
Kiranya memori suka-duka “putih-abu-abu” itu belum cukup
lama terlewati, sahabat...
Aku masih ingat kok...
Kamu pasti masih ingat juga kan???
Wahai sahabat-sahabat di setiap masa yang pernah aku
lewati...
Sungguh semua itu tidak gampang untuk dilupakan...
Bahkan ketika aku dalam kesibukan sekali pun, aku masih
mengingat semua itu...
Aku harap, tidak hanya aku yang mengingat itu sahabat...
Tapi kamu juga...
Walau kita sudah jarang bersua, bahkan mungkin kita tidak
pernah bersua lagi...
Tapi kenangan2 itu lah yang menjadi tali kita sahabat...
Tali persahabatan yang harus terikat sampai akhirat nanti...
Biar kita bisa ketemu lagi...
Ketemu di surganya Illahi...
AMIN...
Kamis, 08 Januari 2015
Kala Ma’had Mati Lampu
Siapa yang
nggak kesal kalo sudah mati listrik, atau lebih familiarnya kita bilang “mati
lampu” (walaupun pada kenyataannya yang mati nggak cuma lampu). Apalagi kalo
mati lampu pas malam hari di ma’had. Akan ada banyak kejadian di detik-detik
setelah mati lampu, apa itu?
Check it out:
1. Semuanya bakalan teriak “aaaa”
Yups,
respond pertama kalo ma’had mati lampu (khususnya malam hari ya ukh) adalah
tereak “aaa”. Entah di kamar, di hammam, di mat’am, bahkan di masjid sekalipun.
Apalagi kalo mati lampunya pas lagi wirid sholat (maghrib n isya sih biasanya),
maka masjid akan didengungkan dengan teriakan “aaa” seketika. Parahnya nih ukh,
kalo mati lampunya pas lagi khusyuk2nya sholat, ada-ada aja santri yang
tiba-tiba tereak “aaa” pas sholat. Ckckck... kaget stadium empat kali dianya
yak, untung mati lampu, jadi kagak ketahuan siapa yang tereak, ups...
2. Beberapa orang sekitar bakalan sesak nafas
Nah,
setelah masjid didengungkan dengan tereakan ”aaa”, biasanya setelah mati lampu
juga akan terdengar beberapa santri yang sesak nafas. Santri-santri yang punya
penyakit (asma sih biasanya) bakalan kambuh seketika. Para mudabbiroh (atau
munazzimah ya sekarang namanya) juga bakalan sibuk seketika ngangkutin
santri-santri yang pada sesak nafas. Nggak cuma qismus sihah yang sibuk, qism
yang lain juga. Ada yang ngangkat si santri, ada yang ngambil tandu, ada juga
yang ngambilin alat apa ituh namanya buat yang punya penyakit asma biasanya, ane
jadi pikun dadakan nih (hedeh, bilang aja kagak tau). Dan masjid pun jadi
tempat evakuasi dadakan seketika. (*pas masjid lagi riuh-riuhnya sama para
santri yang asma, ada aja santri yang pura-pura sesak nafas, biar lebih riuh
lagi, termasuk ane juga pernah, wkwk...)
3. Bakalan ada yang kesurupan juga
![]() |
| Poto orang kesurupan pas mati lampu, begini adanya -_- |
Kalo
yang punya penyakit asama, tinggal dievakuasi, diambilin alat yang ane nggak
tau namanya itu, udah selesai, tinggal nunggu penyembuhan. Yang parah itu, kalo
udah mati lampu, ada-ada aja yang kesurupan, kesambet lah bahasa kerennya. Entah
karena saking takutnya kegelapan dan tiba-tiba pikiran kosong terus dimasukin
jin, atau ada alasan lain, kurang tau juga. Yang ribetnya itu, masa penyembuhan
santri-santri yang kesambet ini, biar lampu udah idup juga nggak menjamin si
jin mau keluar, perlu Ustadz/ustadzah ahli dalam menangani kasus ini.
4. Jadi hafizah dadakan
Nah
ini salah satu untungnya mati lampu, para santri biasanya jadi hafidzah
dadakan. Utamanya ketika mati lampu pas lagi baca qur’an. Pas mikrofon mati,
dan nggak bisa liat alqur’an gara-gara gelap, para santri nggak langsung
berhenti baca Qur’annya. Mereka bakalan meneruskan bacaan Alqur’annya sampai
selesai, yang tadinya rada-rada nggak hafal, tiba-tiba jadi hafal itu Al-Qur’an.
Biasanya sih baca suroh ad-dukhon atau almulk. Yah, mungkin udah keseringan
baca dua suroh itu jadi pas mati lampu pun nggak menghalangi buat baca dua
surah itu kali yak. Subhanallah...
5. Ngambil kesempatan dalam kesempitan
Yang
satu ini nggak oleh ditiru nih ukh. Pas udah mati lampu, yang lain lagi sibuk
ngangkutin santri yang sesak nafas, atau lagi baca suroh gelap-gelapan, ada aja
santri yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidur, salah satunya. Dengan
suasana gelap yang sangat mendukung, ditambah nggak ada yang ngawasin, maka kesempatan
untuk tidur bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walaupun mati lampu biasanya cuma
sebentar, tapi waktu itu begitu berharga bukan jika dimanfaatkan sebaik-baiknya?
Hoho
Sebenarnya
masih banyak lagi kejadian-kejadian unik yang cuma terjadi di kala ma’had mati
lampu. Tapi karena ane rada-rada pikun karena sudah bertahun-tahun nggak
berkutat sama yang namanya ma’had, jadi yang ingatnya cuma lima itu doank, mungkin
para readers ada yang masih inget kejadian unik apa lagi kala ma’had
mati lampu, boleh lah ditambahin, tulis aja dikomentar ya ukh... ^_^
Thanks for reading J
Langganan:
Komentar (Atom)




.jpg)

.jpg)

.jpg)