(Drama ini pernah
dipentaskan di depan kelas 3 intensif, gara-garanya disuruh Ustadzah Bahasa
Indonesia bikin drama. Karena nggak punya ide lagi, drama ini lah yang
kelompok kami pentaskan)
Ide cerita, Penulis naskah, Sutradara : Wiwit Safitri
Novrindy Dwi Pertiwi
as Narator
Faizah Noor Jannah as
Ijah
Wiwit Safitri as
Nyonya Wiwit
Nur Rahmah as Peri
Memble
Eka Siti Normilawati as
Cowok (gadungan)
Check it out!!!
Ijah Si Pembantu
Memble tapi Kece
Ijah, pembantu
bukan sembarang pembantu. Ijah yang ini, Pembantu memble tapi kece. Memblenya pun
bukan sembarang memble. Memble ajaib. Sampai-sampai sang majikan, Nyonya Wiwit
terhipnotis akan mulut memblenya. Apapun akan dilakukan sang majikan untuk pembantunya.
Tak salah, sememble-memblenya si Ijah, ia tetap kece.
Suatu hari yang
cerah di rumah mewah Nyonya Wiwit...
Ijah : “Nyah!!!
Nyonyah!!!!” (tereak2)
Ny. Wiwit : “Iya,
jah!”
Ijah : “
(Belum berhadapan) Mmmm,,, kayanya lantainya masih bedebu deh Nyah!!!!” (dengan
muka sesinis mungkin)
Ny. Wiwit : “Terus???”
Ijah : “(Berbalik
dan berhadapan dengan Ny. Wiwit) Ya.... dibersihin dong Nyah!!!!”
Tiba-tiba Ny.
Wiwit terhipnotis akan mulut memblenya si Ijah dan mau melakukan apa yang
disuruh Ijah...
Ny. Wiwit : “i...
iya, Jah.”(mengangguk dan langsung mengambil sapu)
Ijah : “Bagus,
bagus.... Inget!!! Habis ini bersihin kandang kelinci, hamster, kambing, sapi
dan kebo juga, Ok!!!”(mata melotot)
Ny. Wiwit : “Kandang
sapi, kambing dan kebo??? Emangnya kita punya ya Jah???” (Muka bengong)
Ijah : “Punya
tetangga....hahahaha....” (muka tanpa dosa)
Ny. Wiwit : “ii...
iya deh Jah...” (nurut)
Begitulah nasib
si Ijah, Ia bagaikan majikan di rumah majikannya sendiri. Aneh tapi nyata. Awal
mulanya, Nyonya Wiwit lah yang sering memarahi Ijah. Nyonya Wiwit adalah
majikan yang kejam, sampai-sampai rambut si Ijah keriting gara-gara disetrika
oleh Nyonya Wiwit hanya karena mengambil uang Rp 100,- di lantai yang sedang
Ijah bersihkan. Namun hal ini menjadi terbalik semenjak kejadian 2 tahun 3
bulan 4 hari yang lalu.
Di suatu hari
yang suram...
Ny.Wiwit : “Ijah!!!
Ijah”(tereak-tereak)
Ijah :
“ Iya, Nyah!!”
Ny. Wiwit : “Kayanya nie
lantai masih bedebu deh Jah. Bersihin dong, Jah!!! Ijah, ijah... Jadi pembantu
kok nggak bantu-bantu....”
Ijah :
“ii.. iya, Nyah!! (mengangguk dan langsung mengambil sapu)
Ny. Wiwit : “Bagus,
bagus.... saya mau ke mall dulu. Inget!!! Habis ini, bersihin kandang kelinci,
hamster, kambing, sapi dan kebo juga, Ok!!!”(mata melotot)
Ijah :
“Kandang sapi, kambing dan kebo??? Emangnya kita punya ya Nyah???” (Muka
bengong)
Ny. Wiwit : “Punya
tetanggalah.... hahahaha!!!! Jangan lupa, sebelum saya kembali kesini, bersihin
lagi nie lantai, OK!”
Ijah :
“ii... iya Nyah...” (nurut)
Ny. Wiwit : “Paham???”
Ijah :
“Siap, paham!!!”
Nyonya Wiwit
pun pergi. 2 jam kemudian...
(Si Ijah menyapu lantai, Nyonya
Wiwit datang. Ketika Ijah sedang menyapu, Ijah mendapatkan uang Rp 100,- di
lantai...)
Ijah :
“(menyapu) hah,, ada Rp 100,-???”(melototin duit recehan terus ngambil itu duit)”
Tiba2, Nyonya
Wiwit datang dan memergoki si Ijah yang sedang memegang uang Rp 100,-.
Ny. Wiwit : “ Eh,
Ijah!!! Dapat dari mana loe duit?? Mau maling ya?? 100 rupiah aja di colong,
apalagi 100 ribu???”(melototin Ijah)
Ijah : “Nggak,
Nyah. Tadi... tadi saya ngeliat Rp 100,- di situ lalu saya ambil Nyah...”(muka
memelas)
Ny. Wiwit : “
Ahhhh, alesan!!! Ini duit papikat tau!!! Mana setrikaan??? Tak ku setrika kamu
Jah!!!”
Nyonya Wiwit pun menyetrika Ijah (*Adegan ini jangan di tiru, adegan
ini dilakukan oleh ahli!!!”)
Ijah : “Aduh!!!
Aduh!!! Dingin Nyonya!!! Dingin!!!”
Ny. Wiwit : “Dingin???(terheran-heran)
Nyonya Wiwit
kebengongan sama responnya si Ijah. Awalnya ia mengira si Ijah ini seperti Nabi
Ibrahim, yang di bakar tapi malah ngerasain kedinginan. Tapi tiba2 Nyonya Wiwit
sadar, kalo listrik setrikaannya belum dicolok.
*Gubrak!!!
Nyonya Wiwit
pun mencolok listrik setrikaan.
Ijah : “Aduh,
Nyonya, panas nyonya, panas, aaaaaaa (tereak)”
Begitulah
kekejaman Nyonya Wiwit sebelumnya. Malam harinya di kamar si Ijah...
Ijah : “(Menangis
di bangku) Huhuhuhu..... Aku nyesel jadi pembantu, mending jadi penolong mah
kalau tau begini jadinya. Huhuhu....”
Di tengah keheningan
malam itu, datanglah seorang peri, peri memble namanya...
Peri : “Wahai
Ijah!!! Ijah!!!”
Ijah : “Hah
(terkejut) siapa kamu???”(terbengong-bengong)
Peri : “Aku
adalah peri....”(muka bijak, dengan mulut memble tentunya...)
Ijah : “Hah,
peri???? Peri kok memble???”
Peri : “Betul
sekali!!! Aku adalah peri memble, aku akan mememblekan orang-orang yang
teraniaya seperti kamu. Sehingga nantinya, orang yang menganiaya kamu selama
ini akan tunduk sama kamu!!! Hahahahaha....”(ketawa licik)
Ijah : “Benarkah???
(muka penuh harap)
Peri : “Iya...
Tririririring!!!!!”
Sejak saat itu
semua berubah. Si Ijah yang selama ini teraniaya, kini balik menganiaya sang
majikan, karena siapapun yang melihat mulut memblenya akan tunduk padanya. Kecuali
pada lelaki, hanya lelaki yang tidak mempan dengan senjata memblenya si Ijah.
Suatu sore di
lapangan Murjani...
Si Ijah ingin
melepas segala kebosanannya di rumah karena bosan selalu menganiaya sang
majikan. Dengan mulut memblenya dia berniat untuk mencari pasangan hidupnya
kelak. Diapun bertemu dengan seorang lelaki.
(Lelaki sedang duduk-duduk, si
Ijah menghampiri)
Ijah :
“Wow!! Ada cowok, cuit2... boleh kenalan nggak???”
Cowok :
“iiih, meble... siapa mau???”(pergi)
(datang lagi cowok laen)
Ijah : “Eh,
cowok. Boleh kenalan nggak???”
Cowok : “Mem...
mem... memble!!!” (lari)
Ijah : “ihhhh,
kok nggak ada yang mau sama aku sih??? Huhuhu....” (nangis)
(Peri datang lagi)
Peri : “Hei!!!
Ijah.... ijah... aku mendengarmu menagis lagi, setelah 2 tahun 3 bulan 4 hari
kita tak bertemu, ada apa Ijah????”
Ijah : “Peri...
(terisak2) Bagaimana ini, kayanya mulut memble ini bikin cowok2 pada nggak mau
deket sama aku... huhuhu ... “
Peri : “
Ok lah kalau begitu, Ok lah kalau begitu, Ok lah kalau beg-beg-begitu. Aku akan
menghilangkan kemembleanmu, tririririring!!!!
(Memble Ijah pun hilang)
Ijah : “Hah,
aku nggak memble lagi.... hore!!!!”(jingkrak2)
Akhirnya, Ijah
si Pembantu memble tapi kece kini tidak memble lagi dan tentu saja tidak kece
lagi karena sang majikan kini benar-benar jadi majikan, dan si Ijah benar-benar
jadi pembantu. Walaupun ia selalu dianiaya, tetapi ia punya pasangan hidup
selamanya...
The End
(Drama ini fiktif
belaka, jika ada kesamaan nama, tokoh maupun penokohan, itu emang disengaja,
wkwkwk, drama ini udah diamandemen dari yang aslinya sekitar 4 tahun yang lalu)
lapah membacanya....
BalasHapusSyukron udah dibaca Ustadz, mun lapah istirahat dulu Ustadz, kena sambung lagi, ho2 ...
Hapus